Feeds:
Posts
Comments

Kerinduan

Ya Rabbi,
Kerinduanku bukan lagi menggunung
Melainkan telah mencapai langit
Bukan lagi sekedar membuatku menangis
Namun telah membuatku gemetar

Detak jantungku tak lagi teratur,
Melainkan tlah melaju
Bagai hentakan kuda-kuda perang

Kerinduan yang tak tertahankan
Oleh apa dan oleh siapapun
Makin kutahan makin menggelombang
Makin kusimpan makin membayang

Kerinduan untuk Engkau bimbing
Dalam jalan-Mu, menjumpai-Mu
Kerinduan untuk Engkau bimbing langsung
Dalam jalan-Mu, menuju-Mu

Kerinduan,
Mengharapkan sebuah waktu
Dimana hijab tersibak,
tirai ruang dan waktu tersingkap
oleh rasa sejuta rasa
kerinduan hamba kepada-Mu

Kian lara perjalanan kita

Sebab pertemuan abadi

yang kita damba.

Terlalu banyak

pusara di kanan kiri jalan

 

Jangan bayangkan

nama kita tertera di sana.

Teruslah berlari,

jatuh pun tak apa

 

Karena luka adalah karunia

Air mata dan taubat kita

adalah penawarnya

Aku Ingin Pulang

Kita masih di sini, kawan…

di sungai masa

dalam pelayaran menuju muara

 

Layar t’lah mengajak kita serta untuk segera.

Sedang angin itu masih saja

membisikkanku makna-makna

Terlalu banyak dermaga, kawan…

bidukku terlalu sering menepi

sedang hati kian menjerit perih,

“AKU INGIN PULANG !”

Duhai jiwa yang ber Asakan bebas

Duhai hati yang menahan beban luka

Kemana perginya langkah-langkah para kekasih

Kemana pula derai tawa dan isak tangisnya.

 

Ya, Azza…!!!

Dimanakah jiwa Rabi’ah bersemayam

Kala perjalanan batin tak tahu bertepi

Dan semesta rasa menggelegak menghujam batin.

 

Ya, Jalla…!!!

Dimanakah syair sang Rumi bersemayam

Kala perjalanan pikiran tak tahu bertepi

Dan semesta rasa menggelegak menghujam batin.

 

Hari tersisa membawaku luka

Sebab deritanya rindu mengoyak kalbu

Dalam penantian kasih dan cinta abadi

Di maqam tertinggi !!!

Tak Akan

Tak akan….

Kau menggantikan Dia

Kau hendak menghidangkan anggur

namun aku telah mencium bau racun itu

 

Singkirkanlah gelas kacamu itu

atau pecah dan melukai tanganku

 

Buanglah racun itu

sebelum Ia marah melihat leluconmu itu

 

Tak akan

Dia tergantikan oleh rayuan-mu

Hatiku telah penuh oleh cinta-Nya

Hingga hanya kusisakan

Bagi yang tulus hendak menuangkan

cinta-Nya lagi.

Syair Pecinta

Maafkan…

aku bukan penyair

Kalau pun ku bersyair

itu hanya karena jiwaku dahaga

Sedangkan syair adalah telaga

dari mata air cinta

 

Maafkan…

aku bukan penyair

Kalau pun ku gandrungi

 syair-syair para pecinta

Itu hanya karena asaku

tuk meraih jiwa yang merdeka

Sedang syair pecinta adalah energi

Yang kan kepakkan sayapku ke angkasa

 

Maafkan…

aku bukan penyair

Kalaupun ku penyair…

kau tak perlu tahu…

Sumber Cahaya

Suara ibu yang telah ditinggal suaminya itu

 masih kuingat

 ”den…kenapa tampak lesu, kurang

 tidur atau karena apa..???”

 

 Berat diri ini untuk berterus terang…

 karena sulit untuk menjelaskan

 kepada engkau wahai ibu,

 bukan karena ibu tidak akan bisa

 mengerti dengan apa yang telah terjadi

 pada diri ini

 

 Namun aku yakin hal ini

 sulit untuk dirasakan olehmu wahai ibu

 

 Rasa telah sirna,

 tiada manusia satupun yang bisa memuaskannya

 tiada seorangpun yang akan mengertinya

 kerinduan diri yang kini mencapai puncaknya

 telah menyulap semua yang ada menjadi

 tidak ada rasa

 

 Yang ada hanya tangis dan air mata

 Yang membuat diri seolah terbang

 Serasa melayang

 Menuju sumber cahaya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.